Cerita Pertama: Anak Perempuan Pertama yang Berduka
Jumat, 18 April 2025. Hari itu rasanya sama seperti hari biasa, pagi yang sama, aktivitas yang sama, pekerjaan yang sama. "Bisa datang ke rumah sakit sekarang? bapak lagi di resusitasi sama dokter". Satu kalimat yang mengubah seluruh perasaan di hari itu. "Bapak meninggal". . . . Jika mengingat kalimat itu bahkan menulisnya hari ini, air mata selalu menetes, seperti ada benda tersangkut di kerongkongan, seperti ada hal yang mengganjal di dada. Anehnya, di hari itu seolah kemarau datang. "Lo udah tau, kan bakalan kaya gini? yaudah jangan nangis, kalau lo nangis yang lain gimana? administrasi rumah sakit udah? ambulance buat bawa pulang dari pihak mana? di rumah ada siapa?". Terbiasa mengubah krisis menjadi solusi, mencari jalan keluar sendiri, tanpa memberi waktu kepada diri sendiri untuk hanya merasakan yang terjadi saat itu. "It's oke, bapak udah ga sakit, mukanya keliatan gada beban, urusannya di dunia sudah selesai. Kita doakan saja" kata...